Catatan Dimas Supriyanto Tentang Amazon dan Agus, Repost WA Pers Hiburan 1980 - 2000

- Rabu, 19 Januari 2022 | 14:38 WIB

Beritasenator.com -- AMAZON,  MANTAN CALON BESAN - Amazon Dalimunthe Tba sangat ingin berbesan dengan saya.

Beberapa kali,  dia menyampaikan secara langsung. Anak sulungnya laki laki dan anak saya perempuan. Tapi saya bukan orang yang suka menjodohkan anak. Ide berbesan tak terwujud. Meskipun begitu,  saya terharu oleh uluran persaudaraannya.
 
Kami sudah saling mengenal 35 tahun lebih. Teman sepeliputan di awal jadi wartawan. Dulu kami berempat, bersama Akhlis Suryapati yang kini Dirut Sinematek dan Raffles Lesmana - alumni STP yang memilih pensiun -  tapi masih aktif di WA Grup. 

Posko dan tempat mangkal kami adalah KNPI - Kedai Nasi Padang Indonesia - yang berderet di kawasan Senen, Jakarta Pusat.

Habis liputan atau saling telepon sebelumnya kami kongkow di sana menyantap rendang, ayam pop,  petai atau gulai kepala ikan . Tergantung keinginan masing masing dan mood.
 
Satu per satu dari kami menikah. Saya ikut jadi saksi pernikahan Amazon dan mengantarkannya ke penghulu. Amazon pun hadir di acara keluarga saya. Dua kali menikahkan anak, dua kali hadir.
 
Saya dan Akhlis memulai program infotainment membuat Buletin Sinetron di RCTI pada tahun 1990an. Amazon menyusul membuat beberapa program infotainment.

Kami sama sama merasakan hangatnya digelendoti artis cantik dan sexy sebelum dan sesudah wawancara. Dia masih merasakannya hingga kini.
 
Di tahun politik, kami berbeda pilihan baik partai maupun pilihan presiden.  Tapi kami tak pernah benturan. Di acara peliputan kami tetap saingan dan kompak. Saat  sakit,  saya berkesempatan menyambanginya.
 
Dia bahkan nyaleg melalui PAN -  Partai Artis Nasional - bareng Dessy Ratnasari dan Eko Patrio. Tapi dia gagal ke Senayan.
 
Kini kami sama sama telah beranak-pinak dan bercucu.
 
"Sebenarnya saya gak suka bezoek orang sakit, Zon, " kata saya terus terang saat menyambangi rumahnya kemarin. Wajahnya awut awutan. Penampilannya yang selalu resik, flamboyan dan dandy pudar.
 
"Seharusnya kita gak ketemu dalam keadaan begini. Seharusnya kita ngafe, nonton film premiere bareng, dan sama sama ngledek sutradara, produser dan  godain artisnya, "  kata saya. Dia menanggapi dengan  tawa nyaris tanpa suara.  Wajahnya pucat dan lelah. Banyak tiduran.
 
"Jantung baik, gula darah baik, cuma memori banyak ilang ,  " keluhnya, setelah saya ajak ngobrol kian kemari.
 
Bersama Matt Bento dan Teguh Imam Suryadi saya membezoeknya. Menyemangati,  mendoakan dan  memberikan penghiburan. Istri dan mantunya menghidangkan kopi. Kami juga mengantantarkan bantuan himpunan dari teman teman.
 
"Dia senang dibezok Mas Yanto. Sama yang lain gak mau dibezoek, " isterinya curhat.
 
"Dia kan bawa energi positif, bikin happy, " kata Amazon, menjelaskan.
 
Lagi lagi saya terharu.
 
SEBELUM menyambangi Amazon, saya membezoek Agus Blues Asianto. Dia juga tumbang, setelah melakukan touring  dengan sepeda motornya.

Melewati ribuan kilometer, berakhir di Tarakan, Kalimantan. Perjalanan keliling Indonesia berakhir di sana.

Dia kena hedridasi parah, masih bisa terbang sendiri ke Jakarta, tapi selanjutnya terkapar di rumahnya.
 
Sebagai biker, dia abai mengurus badan. Teman teman menyebut “badan Agus isinya cuma asap rokok dan kopi  jarang makan".

"Makan selaparnya " kata Frieta, isterinya. Raganya tipis dan rapuh tapi semangatnya membara.
 
Didukung PWI  dan Kemenpora, dan berbagai perusahaan swasta,  bersama tiga kawannya, berambisi mengelilingi Indonesia. Jelajah Nusantara. Bahkan tahun depan siap keliling ASEAN sekalian merayakan ultahnya yang ke 60.
 
Dia melaju di atas motornya tujuh jam sehari. Menyeberang pulau Sumatera dan Kalimantan. Apa daya tubuhnya lalu mentiung, dan kini terkapar.
 
Kemarin sempat diangkut ke rumah sakit untuk diinfus karena masih enggan makan. Perutnya kosong. 
 
Saya mengenal Agus Asianto sejak 1992. Kami sama sama hadir di pertemuan wartawan film di Cipayung. Teman sepeliputan di bidang hiburan. 

Seingat saya saat itu dia meliput untuk tabloid Citra atau Nova. Gramedia Grup.  Malam hari yang dingin di Puncak Bogor, saya mendapati dia mabuk berat dan ‘nembak; muntah muntah. Kami semua mabuk, saya juga.
 
“Mabok kok ‘nembak   apa enaknya?  teriak saya - mengejek dan menertawakannya.
 
Saya ceritakan lagi di depan isterinya saat kami mabuk bareng itu - sebagai nostalgia. Agus tersenyum hambar. Wajahnya pias.

Halaman:

Editor: Jojo

Tags

Terkini

Kapal Perang TNI AL Siap Dukung Mudik Lebaran

Jumat, 29 April 2022 | 20:19 WIB

Catatan Mozes Di Seychelles

Rabu, 27 April 2022 | 17:02 WIB
X