• Kamis, 27 Januari 2022

Laporan Pendahuluan Dari Erupsi Gunung Semeru

LBH
- Minggu, 5 Desember 2021 | 12:30 WIB
Erupsi Gunung Semeru (FOTO: istimewa/ Pikiran rakyat Depok)
Erupsi Gunung Semeru (FOTO: istimewa/ Pikiran rakyat Depok)

Beritasenator.com. Gunung api Semeru yang memiliki tipe strato dengan kubah lava, dengan puncak tertinggi Mahameru (3676 mdpl) secara administratif terletak di Kabupaten Malang dan Lumajang, Provinsi Jawa Timur.

Aktivitas G. Semeru saat ini terdapat di Kawah Jonggring Seloko yang terletak di sebelah tenggara puncak Mahameru yang terbentuk sejak 1913. Letusan G. Semeru umumnya bertipe vulkanian dan strombolian, berupa penghancuran kubah/lidah lava, serta pembentukan kubah lava/lidah lava baru.

Baca Juga: Indonesia Mulai Mempersiapkan Diri Untuk Konferensi G20 2022

Penghancuran kubah/lidah lava mengakibatkan pembentukan awan panas guguran yang merupakan karakteristik dari G. Semeru.

Data pemantauan:

  1. Visual: selama 1 hingga 30 November 2021 gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati hembusan gas dari kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal tinggi sekitar 100-600meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga kencang ke arah utara, timur laut, timur, tenggara, selatan, barat daya, barat dan barat laut. Suhu udara sekitar 20-32°C. Erupsi masih terjadi tidak menerus, menghasilkan kolom erupsi berwarna kelabu dengan tinggi maksimum 300 hingga 600m dari atas kawah/puncak.

Pada 1 Desember 2021 terjadi awan panas guguran dengan jarak luncur 1700 m dari puncak, atau 700 m dari ujung aliran lava, dengan arah luncuran ke tenggara. Pasca kejadian awan panas guguran terjadi guguran lava dengan jarak dan arah luncur tidak teramati. Pada 4 Desember 2021 mulai pukul 13.30 WIB terekam getaran banjir, kemudian pada pukul 14.50 WIB teramati awan panas guguran dengan jarak luncur 4 km dari puncak atau 2 km dari ujung aliran lava ke arah tenggara (Besuk Kobokan), tetapi hingga saat ini sebarandan jarak luncur detail belum dapat dipastikan.

  1. Kegempaan: Jumlah dan jenis gempa yang terekam selama 1 hingga 30 November 2021 didominasi oleh gempa-gempa permukan berupa Gempa Letusan dengan rata-rata 50 kejadian per hari, dan Gempa Guguran pada 1 dan 3 Desember 2021, masing-masing 4 kali kejadian. Gempa-gempa vulkanik (Gempa Vulkanik Dalam, Vulkanik Dangkal, dan Tremor) yang mengindikasikan kenaikkan magma ke permukaan terekam dengan jumlah sangat rendah.
    Baca Juga: Mensos Tri Rismaharini Memberikan dan Menghibur Anak- Anak di Pengungsian

Analisis:

Pengamatan visual menunjukkan pemunculan guguran dan awan panas guguran dikibatkan oleh ketidakstabilan endapan lidah lava. Aktivitas yang terjadi pada 1 dan 4 Desember merupakan aktivitas permukaan (erupsi sekunder). Dari kegempaan tidak menunjukkan adanya kenaikkan jumlah dan jenis gempa yang berasosiasi dengan suplai magma/batuan segar ke permukaan.

Baca Juga: Manfaatkan Geopark Sebagai Sarana Edukasi dan Wisata

Potensi bahaya:

Halaman:

Editor: LBH

Sumber: Pusat Vukanologi dan Metigasi Bencana

Tags

Terkini

Ekonomi Biru Target Kerjasama Indonesia dan Singapore

Selasa, 25 Januari 2022 | 17:00 WIB

Waspada Kasus Omicron di Indonesia Terus Meningkat

Selasa, 25 Januari 2022 | 13:00 WIB

Kemenkes Menyediakan Telemedisin untuk ISOMAN Omicron

Selasa, 25 Januari 2022 | 11:00 WIB

Indonesia Punya Wakil Di Moto3 GP Sirkuit Mandalika

Minggu, 23 Januari 2022 | 13:00 WIB

Indonesia Mendukung Energi Ramah Lingkungan

Sabtu, 22 Januari 2022 | 11:00 WIB

Serapan Anggaran Kemendes PDTT mencapai 95,4 Persen

Kamis, 20 Januari 2022 | 17:00 WIB

Per Hari ini, Tahukah Anda Apa Yang Terjadi?

Rabu, 12 Januari 2022 | 05:00 WIB

Solusi Pemerintah Menghadapi Masalah Batu Bara

Selasa, 11 Januari 2022 | 12:00 WIB
X