• Kamis, 6 Oktober 2022

Karakteristik subvarian Omicron BA.2.75, Ini Penjelasan Wakil Menteri Kesehatan

- Selasa, 19 Juli 2022 | 17:24 WIB

Begini Gejala Tiga Kasus Omicron BA.2.75 di Indonesia

 
 
 
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengungkap kondisi tiga kasus subvarian Omicron BA.2.75 di Indonesia. Dari tiga kasus tersebut, dua berada di Jakarta dan satu di Bali.

"Ada tiga kasus BA.2.75, semua kasus sederhana, tak terlalu berat," kata Dante saat menghadiri agenda Penyerahan Kepres No 65/P Tahun 2022 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Pengganti Antarwaktu Anggota Dewan Pengawas BPJS Kesehatan di Gedung Kemenko PMK Jakarta, Senin (18/7).

Dante mengatakan tiga kasus tersebut terdeteksi pekan lalu berdasarkan hasil penelitian genom sekuensing dari seluruh pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia.

Menurut Dante, karakteristik subvarian Omicron BA.2.75 berdasarkan hasil pengamatan di sejumlah negara yang terjangkit cepat menular. Namun tingkat keparahan relatif ringan.

"Tak terlalu berat, karena dari beberapa hal yang kami pelajari dari beberapa negara, karakternya seperti Omicron. Kegawatan tak terlalu besar, hospitality tak terlalu besar dan keparahannya tak terlalu besar," katanya dilansir dari Antara.

Dante mengimbau masyarakat untuk tidak perlu khawatir terhadap kemunculan varian BA.2.75 di Indonesia. Sebab, varian tersebut memiliki karakter yang mirip dengan BA.4 dan BA.5.

Dia memastikan temuan subvarian Omicron BA.2.75 telah dilaporkan Indonesia melalui platform berbagai informasi dan data virus influenza di Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID) untuk diteliti bersama negara-negara di dunia.

Omicron BA.2.75 Tak Sebabkan Penyakit Lebih Serius

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Zubairi Djoerban mengatakan subvarian baru ini sedang diawasi Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO.

"Subvarian ini dianggap amat menular dan tersebar di 10 negara. Namun, belum ada bukti kuat akan membawa kita ke hari-hari tergelap dari pandemi, seperti sebelumnya," kata Zubairi melalui akun Twitternya @ProfesorZubairi dikutip Senin (18/7).

Dia mengungkapkan hingga saat ini, belum ada bukti yang menunjukkan subvarian BA.2.75 menyebabkan penyakit yang lebih serius ketimbang subvarian lainnya. Bahkan beberapa ahli menyebut, BA.2.75 merupakan subvarian yang paling tidak mematikan.

Subvarian BA.2.75 kini masuk kategori Variant of Concern (VOC) Lineage Under Monitoring (LUM). Artinya varian ini sedang diawasi secara ketat WHO.

Halaman:

Editor: Jojo

Terkini

RSUP Dr.M Jamil Padang di Perluas Bangunannya

Senin, 3 Oktober 2022 | 11:13 WIB

Herbal Harum Maluku 52 Ikut Pameran di G20 Bali

Sabtu, 27 Agustus 2022 | 21:20 WIB

Kini Air Hujan Sudah Tidak Layak Diminum

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 17:00 WIB

Presiden AS Joe Biden Positif Terkena Covid-10

Jumat, 22 Juli 2022 | 13:00 WIB
X